Jangan Bilang Arum

Jangan Bilang Arum

Sudah-sudah, kau tak perlu meminta maaf. Aku pikir kau benar-benar lupa dengan pesan agar kau menutup pintu. Aku tak menyalahkanmu sama sekali, aku serius. Barangkali memang itu cara Tuhan bermain-main dengan kita. Jadi, lupakan saja perihal kedatangan Arum tadi.
Iya, dia sempat menginterogasi menanyaiku perihal yang aku lakukan di ruang bawah tanah. Ketika ia datang, sebenarnya aku mendengar derap langkahnya. Suaranya yang halus ketika memanggili namaku juga sangat jelas kudengar. Tapi aku memang sedang dalam keadaan kepayang dalam lamunanku terhadap hadiah yang akan kuberikan pada Mila itu. Itu bukan sekadar kepayang, kau harus catat itu. Itu adalah harapan.
Aku telah berbohong pada Arum, meskipun di antara kebohongan-kebohongan itu juga kuselipkan kejujuran, tentang badannya yang lebih wangi daripada biasanya, kucir rambutnya yang lebih rapi dari pertemuan terakhir di kedai kopi Jumat lalu, dan suaranya yang makin terdengar menawan di telingaku. Aku jujur soal itu semua, seklipun ia sepertinya menganggap itu hanya pujian atau rayuan semata, tak apa. Aku terima itu.
Harus aku akui, berbohong pada Arum tentang kado ini bukanlah kebohongan pertamaku padanya. Kupikir kau juga mengerti, terkadang untuk menjaga agar hubunganmu tetap baik-baik saja, kau harus berkata dengan tepat, terlepas dari benar/tidaknya ucapanmu itu, ketepatan adalah poin utama. Akupun melakukan hal itu, aku tahu kapan saat-saat aku harus berkata jujur, dan kapan saat-saat aku harus memberikan fakta alternatif. Disadari atau tidak, aku yakin Arum juga melakukan hal itu padaku.
Hei, aku benar soal itu. Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, aku sangatlah memaklumi katika Arum tidak seratus persen terbuka padaku. Aku maklum, karena diam-diam aku juga begitu. Ketika sedang sakit misalnya, ia tak akan pernah mau bercerita padaku. Dengan santai akan menjawab telponku, pesan-pesanku, dengan keadaan riang seolah dia baik-baik saja. Aku tahu tentang hak itu karena ia terlalu sering memberikan fakta alternatif padaku, sehingga sangat wajar aku menyadari dan mengetahui pola yang ia buat.
Sudahlah, Arum sudah pulang. Kini lagi-lagi tinggal kau dan aku. Aku perlu istirahat cukup malam ini. Besok aku berencana untuk membeli bungkus untuk kado Mila. Malam ini, aku harus menyusun fakta-fakta alternatif agar terlihat wajar ketika belanja bersama Arum besok. Untuk kali ini, biar aku tutup sendiri pintuku. Kuharap kau berkenan pulang dengan senang hati, karena hari terlampau larut dan mendung. Hujan bisa saja menemuimu tanpa permisi.

Komentar

Your browser is out-of-date!

Update your browser to view this website correctly. Update my browser now

×