Arum dan Kertas Kado Pilihannya

Arum dan Kertas Kado Pilihannya

Masih merintik rupanya. Pagi memang terasa lebih segar, tapi dingin tetap saja membuatku malas beranjak. Di layar ponsel telah nampak pesan dari Arum yang sangat singkat, “Jadi?”.

Kami hari ini berencana pergi ke toko langganan Arum untuk membeli kertas kado. Aku bilang pada Arum bahwa aku ingin mendekorasi ruang tamuku dengan ornamen-ornamen dari kertas kado seperti yang ada di rumahnya. Setidaknya dengan alasan itu aku dapat dengan diam-diam membeli kertas kado untuk membungkus kado rahasia. Tak kusangka ternyata Arum sudah berada di teras rumah ketika ia mengirimiku pesan. Dia memang sering seperti itu, dan akupun sering dibuatnya merasa terburu-buru gara-gara kelakuannya ini. Harus aku akui, soal janji Arum termasuk orang yang selalu tepat waktu. Bukan hanya tepat, bahkan sebelum waktunya dia sudah siap, barangkali itu lebih tepat. Sangat berbeda denganku yang selalu berpikir, “Ah, sebentar lagi. Masih jam segini”. Percaya atau tidak, kadang kelakuan Arum itu membuat hidupku terasa kacau dan melelahkan. Kami pun berangkat, tentunya setelah beberapa menit Arum menungguku mandi dan bersiap diri. “Kamu tak bawa helm?” Ia hanya menggeleng. Artinya, aku harus meminjam helm Mbak Ratih lagi, “Sebentar”. Soal naik motor, Arum termasuk orang yang payah sekali. Di usianya yang hampir seperempat abad, ia belum berani mengendarai motor, sekalipun motor matic. Ia lebih senang beresepeda, kalau jauh ia memanggil ojek daring dan kalau aku senggang tentu saja aku yang mengantarnya. Mengantar Arum itu seperti mengantar boneka. Di jok belakang, ia hanya tersenyum, sesekali memeluk dengan erat, dan jarang sekali ia berbicara atau membuka obrolan ketika sedang aku bonceng. Agar aku lebih waspada, katanya. Sampai di tujuan, Arum segera menunjukkan kertas-kertas kado yang ia rekomendasikan beberapa waktu lalu. Selera Arum soal seni ini memang tidak seburuk kemampuannya berkendara, bahkan jauh lebih baik dibandingkan aku. Dengan cepat, aku memilih beberapa kertas kado yang aku butuhkan, untuk mengelabui Arum dan untuk mendekor ruangan. Saat sedang asik memilih, ponsel Arum berdering. Ia mengangkat telepon yang entah dari siapa. Aku tak bisa menebak apa yang diperbincangkan, karena ekspresi Arum yang hampir selalu konstan sama. “Pinjam motormu boleh?” “Eh?” “Aku perlu” “Bisa pakai?” “Aku sudah sering belajar tanpa kamu ketahui” “Masa sih? Aku antar saja deh, mau ke mana?” “Nggak perlu, plis plis plis …” Dengan agak berat hati kuserahkan kunci motorku lengkap dengan STNK-nya. Aku agak was-was sebenarnya. Semangatku untuk mencari kado seketika jadi lenyap. Tidak biasanya Arum seperti ini. Sepuluh menit berlalu dan masih saja hatiku berdebar. Kini gantian ponseku yang bedering. “Halo Ren” suara Mila. “Ada apa, Mil?” “Arum, Ren! Arum!” Suaranya yang gugup membuatku makin penasaran. “Arum Ren!” Dari kejauhan sirine ambulan memecah kebingungan.

Penulis

Rania Amina

Diposting pada

2018-01-25

Diperbarui pada

2018-01-25

Dilisensikan di bawah

CC BY-NC-SA 4.0

Komentar