Menuju LibreOffice Conference (1 dari 3 Bagian)

Menuju LibreOffice Conference (1 dari 3 Bagian)

Jauh Sebelum Semua Ini

Sebelum berkisah tentang LibreOffice Conference Indonesia 2018, saya ingin melompat jauh ke belakang. Saya kira, titik ini merupakan muasal saya dapat berada di LibreOffice Conference Indonesia. Apa yang saya kisahkan bukanlah titik mulai, bukan pula titik nol, hanya titik muasal.
Suatu hari di sekitar September–Oktober, saya mengikuti sebuah acara akbar bernama openSUSE.Asia.Summit. Di acara inilah sebenarnya saya beroleh relasi yang cukup banyak hingga mengantarkan dan membukakan pintu-pintu kesempatan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Masih lekat diingatan saya, kala itu saya menawarkan diri menjadi relawan dalam acara tersebut, sayangnya hal itu tidak dapat terwujud lantaran kuota yang diminta telah terpenuhi. Alhasil, saya pun mendaftar sebagai peserta biasa. Baiklah, apa boleh buat.
Sejujurnya, saya tidak terlalu tertarik dengan openSUSE. Beberapa tahun sebelumnya, saya sempat mencoba dan memasang distro hijau ini, namun saya merasa kurang nyaman saja. Lalu mengapa saya datang ke acara seperti ini? Alasannya sederhana, saya hanya berkeyakinan orang-orang yang datang di acara ini adalah mereka-mereka yang juga aktif di dunia open source, jadi akan sangat besar peluang saya untuk belajar dari mereka-mereka yang hadir.
Dari sekian banyak materi yang disampaikan di kelas paralel openSUSE.Asia.Summit itu, saya sebenarnya hanya tertarik dengan satu kelas yang membahas tentang pembuatan bumper video yang dibawakan oleh Irfan Pule. Saat itu saya belum punya wawasan sama sekali tentang animasi, satu hal yang saya tahu adalah Irfan Pule membuat animasinya menggunakan Inkscape dan Synfig. Baiklah, soal Inkscape saya sudah sangat familiar, namun Synfig? Pernah saya mencoba memasangnya, dan fyuh! tampilannya buruk sekali, ikon gendut di mana-mana, dan yang paling menyebalkan adalah saya tidak tahu bagaiaman cara menggunakan aplikasi yang konon powerfull ini. Meski begitu, tak dapat saya pungkiri, apa yang disampaikan Irfan Pule dalam kesempatan yang sangat singkat tersebut memberi saya inspirasi dan semangat untuk memperlajari Synfig ini.


Terima Kasih Irfan Pule untuk Inspirasinya!

Terlepas dari sedikitnya materi yang saya minati di acara ini,toh pada akhirnya saya mengenal banyak sosok keren. Ramdziana misalnya, sesorang yang tulisan-tulisannya selalu saya ikuti. Ia adalah pemilik laman kabarlinux, portal berita seputar Linux dan open source berbahasa Indonesia. Selain Ramdziana, saya juga berkenalan dengan Sucipto atau lebih dikenal dengan id @showcheap tukang koding yang kemudian banyak mengajari saya tentang banyak hal, dan tentu saja masih banyak lagi kenalan baru saya.

Bergabung di BlankOn

Di acara openSUSE.Asia.Summit, terdapat banyak stan pameran yang ikut menyemarakkan kegiatan, beberapa yang masih saya ingat adalah stan openSUSE, Kominfo, Sepatu Fans, dan BlankOn. Stan terkahir yang saya sebutkan itulah yang kemudian menarik perhatian saya.
Di stan ini, BlankOn memamerkan komputer militer andalannya dan beberapa aplikasi khas BlankOn. Saat pertama kali mengenal Linux, saya sempat memasang BlankOn Nanggar, namun sayang VGA SIS adalah halangan terbesar untuk menikmati BlankOn. Akhirnya saya pun putus hubungan dengan distro lokal ini.
Dari sela-sela kerumunan, seorang yang mengaku bernama Aris Winardi, tiba-tiba mengajak ngobrol setelah saya bertanya tentang Maleo. Selain Aris Winardi, di situ ada juga Kukuh Syafaat yang namanya kerap saya dengar sebagai kontributor desain beberapa kegiatan open source. Kukuh inilah yang kemudian mendemonstrasikan kepada saya terkait Maleo. Tentang apa itu Maleo, saya sarankan Anda merujuk pada tautan ini.
Di stan BlankOn ini, saya beroleh cendera mata berupa tumbler BlankOn. Usai dari stan ini, saya tergerak untuk “balikan” dengan BlankOn, namun kali ini bukan sebagai pengguna, tapi sebagai pengembang.
Keinginan ini kemudian semakin mantap ketika saya mendapat “pencerahan” di salah satu sesi yang dibawakan oleh Ahmad Haris (Manajer Rilis BlankOn Tambora). Saat itu saya menanyakan, tentang metode penerjemahan aplikasi. Salah satu nama ajaib yang disebutkan Ahmad Haris dalam jawabannya adalah Andika Triwidada. Redaksi detailnya saya agak lupa, kurang lebihnya, “Nanti silakan kenalan dengan Pak Andika Triwidada kalau mau serius belajar menerjemahkan aplikasi”. Nama Andika Triwidada ini juga bukan nama yang asing bagi saya, karena saya kerap menjumpai nama ini dalam beberapa kredit penerjemah di aplikasi.
Selang beberapa hari, Aris Winardi menawari saya untuk bergabung di Tim Kesenian BlankOn, tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan tawaran ini dan cerita selanjutnya pun dimulai dari sini.

Lanjut membaca bagian ke-2

Komentar

Your browser is out-of-date!

Update your browser to view this website correctly. Update my browser now

×