Menuju LibreOffice Conference (2 dari 3 Bagian)

Menuju LibreOffice Conference (2 dari 3 Bagian)

Barangkali Anda belum membaca penggalan cerita sebelumnya, silakan menuju ruangan ini

Kontribusi, Belajar, Kontribusi

Semenjak saya bergabung dengan BlankOn, banyak hal baru yang saya pelajari. Namun pada tulisan ini, saya hanya fokus bercerita tentang hal-hal yang kemudian berkaitan dengan jalan saya menuju acara LibreOffice.
Di sebuah siang dengan terik khas kota Jogja, saya bertemu dengan Aris Winardi dan Irfan Pule, dua nama yang sempat saya singgung di tulisan saya sebelumnya, di bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Pertemuan itu sebenarnya dadakan dan terjadi begitu saja. Salah satu hal yang saya ingat adalah pertanyan dari Aris Winardi, “Kapan mau main ke Bojong?”. Saya, tanpa pertimbangan apapun, menjawab, “Akhir-akhir tahun barangkali”. Apa yang terucap saat itu sepertinya diamini oleh malaikat yang kebetulan sedang meniupkan angin di bandara. Benarlah, meskipun bukan akhir tahun, segera setelah perbincangan itu saya pergi ke Bojong.
Saya ke Bojong dalam rangka membantu pameran BlankOn dan Ridon di acara Habibie Bekraf sepertiga awal Agustus. Acara tersebut dihelat di Jakarta International Expo Kemayoran. Saya menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan pertama saya ke Jakarta karena perjalanan ini adalah perjalanan yang saya kehendaki dengan sepenuh hati, meskipun kenyataannya saya pernah ke kota metropolitan itu sebelumnya. Selama acara tersebut, banyak orang-orang baru yang saya temui. Sebentar, sebanarnya juga tidak baru-baru amat, karena kami sering bersua melalui Telegram, mungkin lebih tepatnya bertemu pemilik akun Telegram yang selama ini ngobrol di grup #halahRIBET.
Sebagaimana yang dituliskan Pak Sokibi melalui blog pribadinya, setelah pameran selesai, sempat ada omongan akan diadakan kegiatan lagi. Hal ini berangkat dari keisengan Pak Sokibi memerkan permainan G-Compris di acara Habibie Bekraf. Melihat antusiasme para pengunjung pameran terhadap aplikasi permainan ini, akhirnya diputuskan untuk mengadakan kegiatan gotong royong penerjemahan aplikasi ini dalam waktu dekat.
Rencana tersebut bukanlah wacana belaka. Pada Sepetember 2017 kegiatan gotong royong penerjemahan G-Compris benar dihelat. Pada kegiatan ini akhirnya saya berkesempatan untuk bertemu dengan sosok Andika Triwidada yang dulu pernah disebut-sebut oleh Ahmad Haris. Satu hal yang membuat saya salut pada Andika Triwidada ini ketika beliau mau menerima saran saya saya terkait beberapa kata yang sedang diperdebatkan saat itu. Meskipun terdengar sepele, hal seperti itu sungguh sangat membahagiakan bagi saya. Bagaimana tidak, seorang senior penerjemah masih mau menerima pendapat seorang yang, haduuuuh, baru nyicipi rasanya menerjemahkan aplikasi. Sedikit keluar dari topik, saya pernah mendapat perundungan/bully ketika memberikan saran ke sebuah proyek open source di Indonesia dengan alasan saya bukan siapa-siapa.
Baik, kembali ke topik.

Muasal LibreOffice Conference

Acara gotong royong penerjemahan selesai. Oleh Ahmad Haris, saya dan Sokibi yang masih berada di Bojong diajak untuk makan malam di mi Aceh sekitar daerah Bojong. Pak Mahyudin saat itu juga turut serta seingat saya. Saat di meja makan, muncul perbincangan untuk mengadakan acara terkait LibreOffice. Saya ingat betul waktu itu belum ada obrolan untuk mengadakan konferensi sebagaimana yang terjadi sekarang. Embrio dari gagasan konferensi ini–dari persektif saya–muncul ketika Ahmad Haris meminta Sokibi untuk menulis modul pembelajaran LibreOffice. Modul tersebut rencananya akan digunakan sebagai handbook lokakarya LibreOffice di suatu tempat yang saya agak lupa persisnya.
Sokibi menyanggupi permintaan tersebut. Saya yang masih dungu, hanya menyimak perbincangan itu, karena saya kira ini hanya akan menjadi agenda yang bakal diekseskusi oleh orang-orang sepuh, mengingat saya juga tidak punya keterampilan khusus terkait aplikasi perkantoran ini. Namun dugaan tersebut salah. Salah BESAR!
28 Oktober 2017, saya diculik dan dimasukkan ke dalam sebuah grup bernama “LibreOffice Mini Conference”. Dari namanya saja, sudah dapat ditebak grup macam apa ini, apalagi melihat orang-orang yang tergabung di dalamnya. Kalimat pertama yang saya baca dari grup tersebut adalah pesan dari Ahmad Haris, “Silakan diajak orang2 yg kira2 bisa serius kontribusi”. Jreng! Pada detik tersebut saya agak dag dig dug. Saya takut tidak bisa maksimal, namun sekali lagi mereka yang berpengalaman memberi saya motivasi dan pembelajaran yang sangat berharga.
Tugas saya dikepanitiaan ini barangkali masih kalah berat dengan panitia yang lain, karena tugas yang saya emban bisa dilakukan dengan duduk santai dan cukup modal laptop dan koneksi internet. Berbeda dengan teman-teman panitia lain yang mesti mondar-mandir, urus ini itu, fiyuuuh! Tidak terbayang capeknya. Saya mendapat tugas untuk ikut mengoreksi (bukan membuat) proposal, materi presentasi, dan membuat desain-desain untuk acara ini. Jika saat acara kemarin mbak-mbak pembawa acara bertanya sudah berapa lama ikut mempersiapkan kepanitian ini, barangkali jika saya yang diberikan kesempatan menjawab, maka yang terlontar adalah “Sejak setahun yang lalu!”.

Lanjut membaca ke bagian terakhir

Komentar

Your browser is out-of-date!

Update your browser to view this website correctly. Update my browser now

×