Menuju LibreOffice Conference (3 dari 3 Bagian)

Menuju LibreOffice Conference (3 dari 3 Bagian)

Barangkali Anda belum membaca penggalan cerita sebelumnya, silakan menuju ruangan ini

Rania Sebagai Panitia

Membagi waktu adalah keniscayaan ketika kita beroleh amanat untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Berkontribusi adalah keharusan ketika kita telah tergabung di komunitas.
Karya yang lahir dari rahim kita adalah persembahan untuk beterima kasih kepada komunitas.

Dibuka dengan kalimat yang sok “wow” dulu biar kuliah saya di Sastra Indonesia sedikit ada gunanya, hehehe.
Bukan hal bohong dan berlebihan jika kegiatan besar ini memerlukan cukup tenaga dan waktu. Kenyataannya, tugas saya yang biasa-biasa saja ini tak jarang membuat saya pontang-panting membagi waktu antara kuliah (termasuk di dalamnya bantu dosen, mengerjakan tugas, dan ujian) dan berkontribusi untuk komunitas. Tapi harus jujur saya katakan bahwa saya menikmati kepontang-pantingan ini. Barangkali justru hal itu adalah hal yang pertama akan saya rindukan setelah LibreOffice Conference selesai digelar.
Omong-omong, selama menjadi pantia kadang saya merasa jengkel kalau mendengar kabar kalau dari panitia lokal susah diajak kordinasi atau semacamnya. Meskipun saya tidak mengetahui secara langsung bagaimana yang terjadi, selalu terbesit di benak saya, “Apakah mereka tidak merasa bangga dapat ikut andil dalam acara besar ini?”. Teramat jengkel hingga saya hampir ragu dengan panitia yang berada di Surabaya.
Syukurlah, rupanya setelah bertemu dengan mereka secara langsung dugaan-dugaan buruk saya tidak benar. Diakui atau tidak, mereka telah bekerja dengan penuh daya dan tenaga yang mereka miliki. Urusan bagus atau tidak bukankah itu soal lain? Bukankah saya juga demikian ketika membuat gambar? Mereka adalah teman-teman yang hebat dan semoga saja mereka tidak kapok meladeni kegiatan komunitas semacam ini.
Bekerja secara daring memang gampang-gampang susah. Kadang saya sulit menerka mana serius mana bercanda. Salah paham merupakan hal yang sangat lumrah terjadi. Tak jarang juga karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, kami jadi “oleng” dan kurang teliti saat mengerjakan tugas tersebut.

Rania dan Aplikasi Desain Open Source

Kontribusi apalagi yang bisa saya berikan selain membuat gambar/desain untuk acara ini? Berangkat dari kesadaran itu, saya mulai banyak mencari referensi untuk memperkaya ide dalam diri saya. Namun sisi lain pada diri saya juga menyadari bahwa kemampuan menggambar saya masih jauh dari kata bagus. Masih perlu diasah terus menurus hingga melebihi tajam.
Terbesit satu ide saat itu untuk membuat sebuah gambar gerak untuk acara ini. Gambar gerak ini saya buat berdasarkan gambar mini poster “coming soon” yang sebelumnya telah saya buat. Pikir saya, belum banyak yang menguasai kemampuan membuat gambar gerak atau animasi, jadi peluang saya untuk belajar pun lebih terbuka lebar. Bagaiamana pun saya adalah hambanya yang kadang juga pengen ikutan ngeksis, hahaha.
Gambar gerak saya buat dengan aplikasi bernama Synfig. Jujur saja, tampilan aplikasi ini buruk sekali, namun saya memaafkannya karena fitur-fitur yang dibawanya cukup bagus dan sangat mudah digunakan. Perlu beberapa hari bagi saya untuk membuat konsep gerakan untuk animasi ini, kala itu saya berharap semoga apa yang saya buat ini dapat diterima oleh masyarakat pengguna open source secara luas.
Selain mengerjakan gambar dan animasi, di acara LibreOffice Conference ini saya juga dipasrahi untuk membuat “semacam” video persembahan. Duh, waktu itu sebenere saya mau menolak tapi sungkan, mengingat pekerjaan yang lain lebih berat daripada saya. Akhirnya saya ambillah amanah ini dan kembali bergumul dengan aplikasi pengolah video bernama Kdenlive. Terima kasih kepada direktur Sepatu Fans, Iwan Tahari, atas bantuannya mengirim source video untuk saya olah. Video ini sebenarnya tidak saya selesaikan sendirian, saya dibantu oleh Hrsxv. (mahasiswa Amikom) dan Tamara Aulia R. (Mahasiswa Sastra Indonesia). Nama yang kedua ini juga membantu saya merampungkan beberapa gambar untuk acara ini. Namun dengan berbagai pertimbangan dan tanpa sedikitpun mengurangi apresiasi saya pada mereka berdua, beberapa video yang mereka usahakan tidak dapat seluruhnya saya muat pada edisi/versi final.
Mengerjakan materi desain untuk acara sebesar ini sebarnanya ngeri-ngeri sedap, meskipun banyak ngerinya. Ketelitian adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan saat bekerja. Terlepas dari ngeri-ngerinya, saya selalu menikmati pekerjaan ini. Hal lain yang membuat saya bangga adalah saya mengerjakan semua ini dengan perkakas open source yang kerap dipandang sebelah mata oleh pasar. Soal laptop saya kadang freeze karena tidak kuat ekspor backdrop dengan ukuran 1:1, itu soal lain (laptop saya saja yang perlu di-upgrade), namun urusan perangkat lunak, aplikasi-aplikasi open source (termasuk Inkscape, Gimp, Synfig, Kdenlive), sudah lebih dari cukup untuk membuat karya.

Rania Selama LibreOffice Conference Indonesia

Saya tiba di Surabaya pada Kamis 22 Maret malam sekitar pukul 10. Urusan penginapan tidak menjadi soal, kebetulan di Surabaya ini banyak teman sedaerah yang siap dikunjungi dan dimintai bantuan, satu di antaranya malah ikut menjadi peserta LibreOffice Conference Indonesia (LOCI) ini.
Kegiatan pertama di acara LOCI ini adalah lokakarya yang dibimbing oleh Andika Triwidada. Lokakarya yang membahas dan mempraktikkan proses build dan translasi LibreOffice ini berjalan lancar dengan beberapa kendala yang masih dapat diatasi.
Cerita tentang kegiatan-kegiatan yang ada di LibreOffice Conference Indonesia kemarin saya kira tidak akan saya tulis lengkap di sini. Beberapa teman sudah menceritakan cukup baik melalui tulisan-tulisan mereka. :D
Selama acara, selain menjadi pembicara dan panitia, saya juga pura-pura sibuk memotret sana-sini untuk keperluan dokumentasi. Jadi, apa yang saya lakukan di sana kurang lebih bisa dilacak melalui gambar-gambar yang telah saya unggah ke Flickr.
Satu hal yang saya tidak sempat potret adalah kegiatan makan-makan, padahal ini penting. Penting karena bisa dijadikan ajang pamer untuk mereka yang masih malas-malasan ikut berkontribusi di dunia open source. Kagiatan sakral ini menjadi bukti bahwa berkontribusi di dunia open source tidak akan membuatmu kelaparan, justru sebaliknya. Tentunya hal tersebut dengan catatan kontribusi dilakukan secara benar dan tepat. Saya tidak sempat mencicipi rawon setan karena saat itu saya masih dalam perjalanan. Jumat (23) pun saya juga absen, karena sedang makan malam bareng seseorang, hehe :p. Hingga akhirnya saya mendapat semacam warning dari seorang panitia agar malam-malam selanjutnya ikut bergabung makan malam.
Akhirnya, pada hari kedua kegiatan (24), saya tidak lagi absen makan malam. Secara teknis, makan malam waktu itu memang termasuk mewah untuk kalangan mahasiswa seperti saya yang … ah sudahlah. Cuma satu hal yang saya sayangkan dari malam itu adalah, saya tidak mendapatkan kenalan panitia lokal saat makan malam karena posisi duduk yang salah. Inilah yang kemudian saya perbaiki ketika di makan malam hari ketiga.


Sponsor

Saya dan Kiki (Rizki Kelimutu) sepakat untuk tidak duduk bersama rekan-rekan yang itu-itu lagi. Setelah memesan makanan, saya dan Kiki berpindah tempat. Apesnya, yang duduk di samping saya justru bukan teman-teman panitia dari PENS melainkan Italo Vignoli, disusul kemudian Franklin Weng dan Eric Sun :(. Duh, niat mau nyari kenalan baru malah serasa tes toefl. Tapi, okelah, samping saya yang lain adalah mahasiswa PENS yang kebetulan di acara penutup tadi didaulat sebagai penitia tergiat. Jadi tidak zonk-zonk, amat. Kami pun akhirnya saling mengenal usai makan malam tersebut, beberapa juga masih akrab menyapa di media sosial.


Bersama Panitia
Bersama Teman-Teman Panitia Lain Usai Perjamuan Terakhir

Dan bertolak dari itu semua, saya ucapkan selamat kepada semuanya saja yang kemarin akhirnya mengatahui siapa Rania Amina, bagaiamana tampangnya (yang jelas gemesin sih), dan jangan kapok untuk bersua kembali.

Kejutan di LibreOffice Conference Indonesia

Banyak kejutan yang saya dapatkan di acara ini, salah satunya adalah ponsel pintar Mi 4i dari Ahmad Haris. Ponsel itu konon milik Kukuh Syafaat yang telah dihibahkan untuk project Ridon yang kemudian dipercayakan pada saya. Sebagai konsekuensinya, saya harus lebih giat untuk berkontribusi ke Ridon, terutama sebagai tester. Ini adalah kejutan yang saya dapat di hari pertama.


Ridon
Ridon

Di hari terakhir, saya mendapat kejutan yang juga luar bisa. Di Pagi yang hampir-hampir memasuki siang itu, Ahmad Haris tiba-tiba bertanya seputar animasi yang saya buat. Konon Sun tertarik dengan apa yang telah saya buat itu. Singkat cerita, saya diajak Sun dan Weng untuk ngobrol di tengah-tengah acara. Mereka meminta saya untuk mendemonstrasikan cara pembuatan animasi sebagaimana yang tertampil di layar sisi panggung. Bukan main-main, bahkan Sun memasang aplikasi Synfig saat itu juga dan melakukan apa yang saya instruksikan. Jika ditanya bagaimana perasaan saya waktu itu, jelas saja mumet, terlebih bahasa Inggris saya kurang begitu bagus. Apesnya lagi, saat demonstrasi laptop yang saya pakai agak-agak macet, mungkin dia ikutan grogi. Setelah mendemonstrasikan dan menunjukkan beberapa portofolio beberapa gambar yang saya buat, ia dan Weng kemudian dengan tanpa basa-basi meminta saya untuk datang ke Taiwan agar dapat mengajari murid-muridnya di sana. Wih, seketika saya jadi goblok. Nggak ngerti mesti ngomong apa.


Bersama Franklin Weng dan Eric Sun
Bersama Franklin Weng dan Eric Sun

Awalnya saya ragu dengan tawaran tersebut, bagaimanapun juga saya masih terlalu amatir dalam hal ini. Namun setelah di-nganu Ahmad Haris, akhirnya saya menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang tak boleh saya lewatkan. Ini adalah kejutan yang membuat saya semakin bangga menggunakan aplikasi open source. Siapa yang sangka Synfig bisa membawa saya terbang nun ke sana.


Dalam tulisan panjang ini saya sengaja tidak memasukkan banyak foto kegitan, karena saya berharap Anda berkenan mengunjungi akun Flickr LibreOffice Indonesia. Selain itu, untuk Anda yang penasaran (sepertinya sih nggak ada) dengan gambar-gambar dan animasi yang saya buat untuk acara ini dapat merujuk ke akun Github saya.
Agaknya, masih banyak yang belum dan terlewat untuk saya ceritakan. Namun Tulisan ini sudah terlampau panjang, jadi saya cukupkan dulu. Terima kasih semuanya dan maaf untuk segala polah saya yang dirasa kurang baik dan membuat Anda sekalian kurang berkenan. Terima kasih telah mampir ke Mozelup!.


Sponsor

Komentar

Your browser is out-of-date!

Update your browser to view this website correctly. Update my browser now

×