TILIL dan Beberapa Hal Menyebalkan di Grup Bertema Linux

Sebut Saja Pengantar

Saya mulai mengenal komunitas Linux sejak duduk di bangku SMP. Sejak masa itu pula, saya berkecimpung di dalam grup-grup yang bertema Linux. Dari masa itu hingga sekarang, jaraknya kurang lebih sekitar delapan atau sembilan tahun (bahkan mungkin lebih. Namun dengan jarak yang lumayan jauh tersebut rupanya banyak hal-hal yang hampir-hampir tidak berubah. Hal-hal yang saya maksudkan di sini berupa pertanyaan dan beberapa sikap menyebalkan yang dapat ditemukan dengan mudah di grup-grup bertema Linux atau open source secara umum, meskipun tidak semua grup. Berikut merupakan curhatan saya yang tidak penting-penting sekali untuk disimak terkait hal-hal tersebut.

Sebagai catatan, saya menulis ini bukan berangkat dari kebencian terhadap golongan atau kelompok manapun, melainkan hanya sebagai refeleksi diri semata.

TILIL Tak Ada Ujung

Dari tahun ke tahun dan dari grup satu ke grup lain selalu saja ada tilil (tanya itu lagi itu lagi) atau bahasa ndeso-nya FAQ yang tak pernah bosan muncul. Kadang saya juga mawas diri dan menerka-nerka mengapa hal tersebut terjadi. Dari beberapa yang saya dengar, alasannya sangat sederhana, malas membaca dokumentasi. Pertanyaan selanjutya adalah apakah (pen)dokumentasi(an) kita sudah cukup baik? Pertanyaan ini saya kira tidak perlu dijawab, karena dalam beberapa grup yang saya temui sebenarnya usaha-usaha untuk memperkaya dokumentasi (khususnya yang berbahasa Indonesia) sudah cukup kuat digencarkan, hanya saja … yah, dengan berat hati saya mungkin juga sepakat kalau sebagain dari para anggota grup masih mengidap penyakit malas mencari.

Apakah bertanya di grup adalah sebuah kesalahan? Tentu saja tidak, karena grup dibentuk memang untuk sarana berdiskusi dan membantu satu sama lain. Namun akan menjadi menyebalkan apabila dalam kurun waktu yang berdekatan pertanyaan yang sama senantiasa muncul, lebih menyebalkan lagi jika pertanyaan tersebut berpotensi untuk menimbulkan keramaian di grup tersebut. Keramaian yang saya maksud adalah debat kusir tak berujung.
Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul di grup dan memiliki potensi untuk membuat kegaduhan, kericuhan, hingga pertumpahan darah (abaikan yang terakhir) antara lain sebagai berikut.

  • Distro apa yang paling direkomendasikan?
    Saya pikir ini adalah pertanyaan nomor satu yang paling sering muncul hampir di semua grup bertema Linux. Jawabanya? Beraneka ragam. Sebagian ada merekomendasikan distribusi yang sedang mereka gunakan, sebagian ada yang merekomendasikan distribusi yang “agak susah”, dan sebagian lagi menjawab normatif, “Tergantung kebutuhan”.
    Jawaban mana saja, sah sebenarnya, karena saya memang tidak ingin menyalahkan. Yang kurang asik adalah jika kemudian pertanyaan semacam ini berujung pada debat kusir mengenai distro mana yang paling bagus, istilah suramnya distro war.
    Berkaca pada diri saya sendiri, untuk menemukan distro yang cocok dengan yang saya butuhkan bukanlah perjalanan yang singkat. Perlu saya tekankan, semenjak saya mengenal Linux hingga hari ini, saya belum pernah menanyakan pertanyaan tersebut ke dalam sebuah forum, mengapa? Bagi saya mencoba adalah opsi terbaik, toh pada kenyataanya dari sekian banyak jawaban yang masuk misalnya, kita juga akan mencobanya. Jika tidak cocok, ganti. Sederhana bukan? Tapi itu itu kan menghabiskan waktu? Begini lho cah, namanya belajar itu memang butuh waktu. Waktu itu bahkan menjadi salah satu dari enam syarat orang dapat berilmu, silakan dicari sumbernya kalau tidak percaya. Sekadar informasi, barangakali terkesan songong saya minta maaf, meskipun saya tidak jago-jago amat dalam hal per-linux-an, setidaknya di masa lalu saya telah banyak mencoba berbagai varian distribusi Linux (bahkan sempat mencicipi Kolibri yang merupakan turunan UNIX). Dari hasil mencoba-coba itu,saya jadi tahu takaran dan konsep tentang nyaman serta cocok menurut saya pribadi. Takaran ini tentu saja tidak dapat saya paksakan ke orang lain, biarkan mereka mencarinya dan membuat takarannya sendiri. Ayolah, megapa takut mencoba jika akhirnya kamu juga akan mencoba?

  • Desktop Environment (DE) yang terbaik apa ya?
    Hampir sama dengan pertanyaan di atas, pertanyaan ini pun sering berakhir dengan kegaduhan. Beberapa ekstrimis mungkin akan menjawab, nggak usah pakai DE lebih asik, cukup pakai Window Manager, sedangkan kaum normatif tentu akan mejawab seperti biasa, “Silakan sesuaikan kebutuhan dan spek komputer”. Kalau saya ditanya dengan pertanyaan seperti itu, saya akan balik tanya, “DE yang sudah kamu tahu ada berapa?”, lalu saya lanjutkan dengan pertanyaan, “Yang sudah kamu coba?”, sejurus kemudian saya akan berkata, “Cobalah satu-satu”.
    Seolah hal tersebut memang tidak menjawab pertanyaan, tapi kembali seperti pertanyaan sebelumnya, mengapa takut mencoba bila toh kenyataannya yang kamu lakukan juga sejatinya coba-coba. Selagi dia bukan perempuan, kalau tak nyaman tinggalkan saja, ganti yang lain, hmm lupakan!
    Begini-begini, semakin ke sini varian DE semakin banyak, artinya pilihan menjadi semakin luas. Pilihan yang semakin luas bagi sebagian orang akan dipandang positif, karena semakin bisa lepas dari kungkungan yang itu-itu saja, namun sebagian lain berpendapat sebaliknya. Terlepas dari itu semua, saya lebih menyarankan banyak-banyak membaca dan mencoba, alasannnya selain bertambahnya varian DE perkembangan DE-DE yang sudah ada sebelumnya pun semakin pesat, namun stigma-stigma tentang beberapa DE tertentu tidak dapat lenyap begitu saja. Bingung ya, begini konkretnya. Dari sekian banyak DE yang ada, biasanya dapat disederhanakan dengan penggolongan ke DE yang ringan dan DE yang berat. Nah ringan dan berat ini sebenarnya juga tidak dapat dengan pasti diukur dan dipertanggungjawabkan. Mengapa? Masing-masing DE, setiap rilis terbaru tentunya akan membawa perbaikan dari versi-versi sebelumnya, oleh karena itu tak jarang ada DE yang konon digembar-gemborkan berat di versi baru justru malah terasa ringan, maupun sebaliknya. Jadi bagaimana sebaiknya? Coba sendiri!

  • Apakah bisa nge-game di Linux?
    Aktivitas yang satu ini memang agaknya dipandang susah untuk dilakukan di lingkungan Linux. Itulah alasan mengapa pertanyaan ini muncul. Beberapa jawaban biasanya agak nyinyir menanggapi pertanyaan ini. Kenyinyiran tersebut ditunjukkan dengan jawaban semisal, “Kalau nge-game di Windows aja”. Khusus untuk masalah ini sebenarnya saya kurang setuju dengan jawaban sejenis itu. Mengapa? Karena hal tersebut memberikan makna bahwa di lingkungan Linux tidak memberikan fasilitas pengguna untuk nge-game. Ini terlalu sadis menurut saya mengingat banyak pengembang di luar sana yang telah berbondong-bondong melakukan porting permainan ke lingkunagan Linux. Secara konkret saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini karena saya sama sekali tidak ada pengalaman terkait game baik di Windows maupun di Linux.

  • Apakah ada panduan linux berbahasa Indonesia?
    Penanya yang melontarkan pertanyaan ini rasanya pengen tak cubit hidungnya (pakai tang), apa susahnya mengetikkan hal tersebut ke dalam mesin pencari. Memangnya salah menanyakan ini di grup? Oh, tidak salah, cuma KEBANGETEN saja. Justru yang ingin saya tanyakan kepada penanya ini, “Anda hendak membuatnya?”. Ayolah cah, internet (cepat) buat apa?

  • Punya tutorial Linux?
    Idem

  • Saya baru pasang Linux, apa yang harus saya lakukan?
    Berdoalah.
    No comment deh, nyerah saya kalau ada pertanyaan semacam ini.

  • dan masih banyak lagi.

Hal-Hal Menyebalkan Lainnya

Selain beberapa tilil yang telah saya sebutkan di atas, hal lain menyebalkan lain yang sering saya temui di beberapa grup Linux adalah adanya diskriminasi terhadap beberapa pengguna distribusi Linux tertentu, biasanya distribusi bergenre pentest.
Bukan rahasia lagi kalau ada pengguna distribusi pentest di grup bertema linux (yang umum) akan sulit luput dari perundungan (bully). Beberapa tendensi yang sering muncul untuk membenarkan tindakan ini antara lain argumen-argumen sejenis, “Balajar itu dari dasar, jangan langsung yang susah”, “Itu nggak cocok, pakai distro X saja yang lebih mudah dan umum”, “Itu buat peretas, Anda peretas?”. Hal semacam ini, menurut saya pribadi adalah ironi, bagaimana bisa di lingkungan yang menjunjung nilai-nilai kebebasan malah “secara tidak disadari” memaksa orang lain untuk mengikuti pola pikir yang kita pakai. Apa yang salah dengan mencoba? Toh kalau akhirnya yang bersangkutan sudah mentok pada permasalahannya, mau tidak mau juga dia akan melakukan manuver denga sendirinya. Santailah.

Tak hanya hal itu, munculnya beberapa orang yang kadang terlalu memaksakan ideologi tertentu juga menurut saya cukup menyebalkan. Ideologi dalam pembahasan ini bukan saya kaitkan dengan agama atau politik, itu terlalu luas dan tidak masuk tema bahasan tulisan ini. Ideologi yang saya maksud adalah pandangan/atau cara berpikir tentang sesuatu, konkretnya nih, ada yang terlalu keras melarang penggunaan bahasa-bahasa informal. Konon semua mesti baku, sesuai kaidah dan mbuh lah aku juga gak paham yang diharapkan. Asal bahasanya bisa dipahami, menurut saya masih amanlah, tidak melulu harus baku, memangnya mau bikin karya tulis? Atau orang yang terlalu memaksakan orang lain untuk menggunakan istilah-istilah tertentu dalam dunia per-Linux-an karena dipandang lebih benar dibandingkan istilah lain. Contoh kasus yang pernah muncul adalah perdebatan panjang tentang mana yang lebih pas, LINUX atau GNU/LINUX. Pertanyaan saya, “Kalau sudah ketemu yang pas yang mana memang mau ngapain?”. Barangkali, saya perlu menulis tentang kontestasi ideologi agar perdebatan semacam ini tidak terjadi di grup-grup Linux, wkwk.

Terlepas dari Itu Semua

Grup bertema Linux dan open source merupakan grup yang hampir setiap hari saya kunjungi, baik itu di Telegram, Facebook, Slack, Gitter, atau yang lain. Saya tidak boleh memungkiri bahwa di dalam grup-grup tersebut, selain terdapat hal-hal menyebalkan yang telah saya tuliskan di atas, terdapat juga hal-hal menyenangkan dan bermanfaat.

Komentar

Your browser is out-of-date!

Update your browser to view this website correctly. Update my browser now

×